You're here: My Music Blogging » Musik Indonesia » Article: JJF Tidak Perlu Pindah dari JCC

JJF Tidak Perlu Pindah dari JCC

Benny Chandra — March 25, 2009 / 3:10 am

jjfDi balik berbagai kekaguman terhadap penyelenggara Jakarta International Java Jazz Festival 2009 yang masih sanggup mendatangkan sederet artis kondang mancanegara, terdapat juga banyak keluhan.

Salah satu hal yang paling banyak dikeluhkan adalah soal terlalu berdesak-desakan di dalam lokasi acara. Memang, selama tiga hari berlangsungnya Java Jazz Festival (JJF) 2009, yang terasa paling mengganggu adalah lalu lintas di dalam gedung Jakarta Convention Center (JCC) yang terasa sangat padat. Untuk pindah dari satu ruangan pertunjukan ke ruangan pertunjukan lain saja seringkali harus penuh perjuangan. Kepadatan jumlah penonton yang berada di sekitar area depan pintu masuk ruang-ruang pertunjukan merupakan penyebab utama.

Kalau dilihat sekilas, bagi kebanyakan orang, mungkin dengan gampangnya akan mengambil kesimpulan bahwa kapasitas gedungnya sudah tidak sanggup menampung puluhan ribu penonton yang datang.

Bahkan bagi penyelenggaranya sendiri, sebelum acara tahun ini berlangsung, JCC telah dianggap sudah kurang memadai sebagai tempat penyelenggaraan JJF sehingga rencananya untuk tahun depan akan dipindah ke kompleks Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Apakah tempat yang lebih besar memang merupakan solusi yang pas agar tidak sesak-sesakan lagi?

Belum tentu. Kenapa begitu?

Memang, kepadatan yang terjadi di dalam JCC karena banyaknya penonton. Terutama di area lobi utama dekat Plenary Hall. Tapi kenapa begitu banyak penonton jadi berjubel di daerah lobi? Setidaknya ada dua penyebabnya. Pertama, para penonton itu sedang antri menunggu artis yang akan tampil, khususnya yang akan tampil di Plenary Hall dan Asembly 3. Sering molor dari jadwal yang sudah ada semakin membuat antrian tambah panjang. Tumpukan penonton akan semakin padat jika ditambah bubaran dari pertunjukan di ruang sekitarnya.

Kedua, para penonton itu sedang nongkrong dan atau mengunjungi gerai-gerai yang terdapat di bagian tengah lobi. Saat itu, terlihat gerai yang paling ramai adalah gerai merchandise dan gerai makanan minuman.

Yang menarik, saya sempat memerhatikan ada seorang penyanyi kondang, yang bukan termasuk penampil dalam JJF 2009, asyik nongkrong berlama-lama di sebuah gerai produk bir. Nampaknya mantan vokalis sebuah band terkenal itu datang hanya sekedar untuk bersosialisasi, bukan untuk menyaksikan aksi panggung dari musisi yang tampil. Dan rasanya tidak sedikit pengunjung lain juga seperti itu. Mereka seakan tidak peduli siapa artis musik yang bakal tampil. Yang penting kumpul-kumpul di sebuah acara bergengsi.

Melihat kondisi seperti itu, seharusnya penyelenggaraan JJF tidak perlu buru-buru pindah dari JCC. Masih ada solusi yang bisa dicoba untuk mengatasi masalah yang ada. Apalagi mengingat lokasi JCC yang sangat strategis dan relatif mudah dijangkau oleh para penonton dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Sebenarnya yang diperlukan agar bisa tetap nyaman menikmati JJF di JCC adalah evaluasi dan pengaturan ulang, termasuk pengaturan penggunaan ruangan yang sesuai dengan antusias penonton terhadap musisi tertentu. Tanpa evaluasi yang sungguh-sungguh dan pengaturan ulang, mau pindah di tempat manapun yang katanya lebih luas, tetap saja bakal terjadi hal serupa.

Setidaknya ada 5 hal yang bisa dilakukan untuk bisa meningkatkan kenyamanan penonton JJF yang datang ke JCC. Yaitu:

  1. Tiadakan atau kurangi jumlah stand atau gerai promosi yang ada di area lobi utama (dekat Plenary Hall). Dua panggung di area lobi sudah cukup mengundang penonton berkumpul. Tidak perlu lagi ditambah dengan orang-orang yang datang hanya untuk nongkrong di depan gerai

  2. Kalaupun tetap harus ada gerai di lobi, jangan ada gerai yang berada dekat dengan pintu masuk ruangan-ruangan tempat pertunjukan. Jangan sampai terjadi lagi ada antrian orang-orang yang ingin menonton pertunjukan di Plenary Hall bersenggol-senggolan dengan antrian orang-orang yang ingin membeli konsumsi.

  3. Tiadakan pameran tambahan yang selama ini selalu membarengi penyelenggaran JJF. Seperti tahun 2009 ini, pameran yang kali ini bertajuk Integrated Technologies Indonesia 2009 diadakan di Hall A. Ruangan sebesar itu lebih baik digunakan sebagai tempat manggung artis JJF yang menyedot penonton dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika pamerannya tetap harus diadakan, mendingan ditukar saja. Hall A buat pertunjukan, ruangan-ruangan agak kecil seperti Cendrawasih dan Asembly untuk pameran.

  4. On time sesuai jadwal. Pertunjukan masing-masing artis harus on time sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kalaupun harus molor, sebisa mungkin jangan lebih dari 15 menit. Waktu yang semakin molor membuat antrian di depan pintu masuk semakin memanjang. Dan itu jelas bikin tidak nyaman para penonton, baik yang sedang mengantri maupun yang sekedar lewat untuk ke ruangan lain.

  5. Evaluasi penentuan ruangan untuk artis. Sudah saatnya penonton pertunjukan artis musik Indonesia papan atas tidak perlu berdesak-desakan di Cendrawasih 1 & 2 hingga meluber ke luar. Artis musik Indonesia yang tampil di JJF, apalagi sekelas KLa Project dan Emerald yang tampil tahun ini, sudah selayaknya mendapat ruang pertunjukan yang lebih besar dan luas.

Dengan evaluasi dan pengaturan ulang sana-sini, rasanya JJF tidak perlu dulu deh buru-buru pindah dari JCC tahun depan. Setidaknya untuk sementara.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. JakJazz 2010 oleh Java Jazz Festival » BennyChandra.com

    […] JakJazz, oleh penyelenggara Java Jazz Festival, di JCC (Jakarta Convention Center). Déjà vu! […]

    March 29th, 2010 at 1:31 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • JakJazz 2010 oleh Java Jazz Festival » BennyChandra.com — [...] JakJazz, oleh penyelenggara Java Jazz Festival, di JCC (Jakarta Convention Center). Déjà vu! [...]
  • Babyface @ Java Jazz Festival 2010 » BennyChandra.com — [...] soal pertunjukannya, dibandingkan dengan penampilannya di Java Jazz Festival 2008 silam, tahun ini pertunjukan Babyface tidak terlalu molor. ...
  • » Mimpi Anggun di Surabaya Tidak Jadi Kenyataan ~ Blog Archive ~ Musik Indonesia (Asia Blogging Network) — [...] Keinginan Anggun agar penonton yang datang ke konsernya tidak asyik foto-foto dengan ponsel ternyata hanya cukup jadi mimpi saja. ...
  • SHEMY — i love u all, power slaVES.BANGKITLAH KEMBALI.VANS WONOSOBO.KAPAN KONSER DI WONOSOBO...?
  • arie — ne emang berita keren.secara gue ngefans banget ma HEYDI IBRAHIM.
  • ridwn — hah gua suka maen bola
  • supratman — aq mohon bgt please indonesian idol 2009 kpan di bka lgi aq pgn bgt mncoba jd penyanyi indonesi/jd orang trknl........ mdah2an ...
  • supratman — waduh aq dah gx sabar nich kpan ya indonesian idol di bka lg??????????? aq pgn cpet manggung nich........ please jgn tutup dulu ...
  • vad — wahhhh kerennn ... hemm warna rock yg jadi gimana yahhh ...!!! di tunggu albumnya..... pokoe.. maju terus rock indonesia........!!
  • Bagus mulyana — Bravolah bwt Idol mh,,, Ttp smngat yUkk,,,!!

TRACKBACKS